Perempuan memang dituntut untuk mampu melakukan tugas ganda (multitasking). Apalagi di era modern ini ketika makin banyak ibu yang bekerja di luar rumah. Menurut penelitian, perempuan juga lebih banyak melakukan tugas ganda daripada pria. Dinyatakan bahwa ibu bekerja menghabiskan waktu 48 jam per minggu untuk melakukan tugas ganda, sementara pria hanya 39 jam. Jadi perempuan 9 jam lebih banyak melakukan pekerjaan.
Multitasking atau melakukan tugas ganda juga nyata sekali terlihat di ranah domestik, yaitu rumah tangga. Dalam penelitian itu terlihat perempuan mendapatkan angka sebesar 52 persen dalam multitasking untuk tugas rumah tangga, sedangkan pria 42 persen. Dalam hal mengasuh anak, pria angkanya 28 persen, dan perempuan 36 persen. Demikian hasil penelitian yang dirilis dalam American Sociological Review.
Sebuah survei di AS yang dilakukan terhadap 20 ribu ibu pekerja mengatakan bahwa menjadi ibu, istri, dan pekerja sering menjadi dilema bagi perempuan. Banyak yang merasa bersalah karena waktu untuk keluarga tersita oleh pekerjaan.
Anna Surti Ariani, sebagai psikolog mengatakan bahwa melakukan kerja ganda atau multitasking memang dapat memberikan dampak negatif, seperti sulit untuk bisa menenangkan diri, cenderung bersikap terburu-buru, kurang menghargai atau kurang menghayati tugas yang sedang dikerjakan.
Sarah Burgard dari Michigan, AS, juga menyatakan bahwa ibu bekerja merupakan multtasker yang baik, namun sebagian besar dari mereka merasa tidak begitu bahagia. Penelitian itu juga menyatakan bahwa perempuan lebih stres dibandingkan pria, dalam menghadapi multitasking. Selalu menghadapi tugas yang menumpuk, dan lebih banyak dari pria, pantas saja bila perempuan jadi stress.
Menurutnya, sulit sekali orang bisa menjalani multitasking sekaligus. Otak manusia memang seperti komputer, bisa membuka banyak layar di desktop, tetapi tetap saja manusia hanya bisa mengerjakan dan memikirkan satu hal pada satu waktu.
Beberapa ahli berpendapat, perempuan secara alami mempunyai spirit, emosi, atau intuisi untuk melayani, sehingga lebih mampu multitasking. Karena itu, sebagian besar perempuan merasa bangga karena sukses mengurus keperluan anak-anak dan suami, mengelola keuangan keluarga, sekaligus bekerja di luar rumah, dan nyaris tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Sementara orang lain menganggap itu sebagai kerepotan luar biasa. Kemajuan teknologi ikut pula membuat perbedaan kantor dan rumah makin tipis, lalu memicu lebih banyak orang melakukan multitasking. Mereka mengerjakan tugas rumah tangga sambil berbisnis dari rumah, atau menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah.
Incoming search terms:
- wanita dan kesehatan lingkungan



